Minggu, 14 April 2013

Cerpen Remaja


Kita tetap jadi kita..


B
erawal dari 2 tahun lalu, ketika kami berempat mempunyai keputusan  yang awalnya tidak mudah untuk diterima, apalagi Aku yang paling manja diantara 3 orang sahabatku.Sebenernya ide itu keluar dari Cisa salah satu sahabatku yang memang paling dewasa pemikirannya. Tetapi akhirnya semua ya harus setuju, walaupun ide itu benar-benar gila. Kami memutuskan untuk mengiyakan ide Cisa dan kami pun setuju untuk berpisah untuk 5 tahun kedepan. Perpisahan ini bukan karena suatu pertengkaran, tetapi agar kita bisa mandiri dan tidak selalu bersenang-senang, sekaligus untuk menghukum masing-masing dari kami yang sulit untuk memecahkan masalah dengan otak dingin dan selalu kekanak-kanak an. Sebenarnya kami mengerti kalau itu salah, tapi gimana lagi ya namanya remaja labil. Kami biasa menyebut persahabatan ini dengan “Trils Oboy” , maksutnya Three Girls One Boy tapi karena terlalu panjang, seringkali kami menyebutnya TOY. Itu karena kami terdiri dari satu cowok, namanya Beni yang grows up diantara tiga cewek cantik, termasuk Aku.
Malam itu tanggal 12 September 2010, bertepatan dengan hari Ulang Tahunku ke 15, tahun pertama ku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Memang hari itu spesial banget buat Aku, tapi sedih juga rasanya harus merayakan Ulang Tahun sekaligus menjadikan moment itu untuk perpisahan kami. Aku yang malam itu sedang menjadi Ratu semalam, harus gelisah karena tiga sahabatku belum juga muncul diantara tamu undangan yang lain.  Beberapa menit berlalu, akhirnya acara Ulang Tahunku dimulai dan mereka bertiga belum juga menampakkan batang hidung. Terasa sesak, kepala pusing dan keringat dingin mulai mengucur deras di kening ku. Melunturkan dandanan yang malam itu terkesan minimalis, seakan bepadu dengan tema pesta ku itu. Gelisah tak menentu saat tiup lilin dan pemotongan kue sudah usai tetapi mereka belum juga datang.Sampai aku memutuskan untuk meninggalkan acaraku dan naik ke teras atas agar mendapat suatu ketenangan. Aku bisa melihat semuanya dari atas, termasuk saat pesta ku seakan mati dengan padamnya listrik. Tetapi semuanya tidak seburuk dengan apa yang kubayangkan, ternyata itu tadi hanya bagian dari rencana TOY untuk memberi kejutan. Mereka bertiga dan para tamu undangan  bernyanyi dibawah sana dan aku benar-benar menjadi Ratu semalam. Aku pun turun dan memberi pelukan hangat kepada mereka bertiga. Degub yang tak wajar terjadi saat Aku memeluk Beni. Balasan pelukanku yang ia berikan sangat erat, seolah tulus dan tak ingin melepaskanku. Tapi aku buru-buru melepaskan diri agar tidak timbul perasaan yang tak seharusnya kumiliki terhadapnya. Malam pun telah larut, tamu undangan juga sudah tidak ada yang tersisa. Tetapi tidak dengan kita, yang masih menikmati dinginnya hembusan angin malam dan indahnya langit yang berhias bintang. Canda dan tawa yang kulihat malam itu seakan mengatakan bahwa kita tidak boleh berpisah. Tetapi apa daya, kita harus konsekuen dengan keputusan awal.
Waktu menunjukkan pukul 00.00 dan Cisa undur diri untuk pulang. Tak lama kemudian Erin juga pulang karena rasa kantuknya sudah tak tertahan, menyisakan Aku dan Beni di taman belakang rumah. Sebenernya aku tidak biasa tidur selarut ini, tetapi mungkin karena ada Beni yang selalu membuatku tertawa jadi rasa kantuk itu tidak sedikitpun menghampiriku. Rasanya malam ini tak seperti biasanya, Beni terlihat kaku dan menyembunyikan sesuatu. Tetapi aku juga enggan untuk menanyakan apa yang terjadi. Hening pun mulai terasa saat sudah limabelas menit tidak ada percakapan diantara kami berdua. Akhirnya Beni memulai pembicaraan.
“Sel, kalo kita nanti pisah dan masing-masing sudah menemukan sesuatu yang menyenangkan, kamu  jangan berubah. Tetep jadi Sella yang Beni sayang ya!”. Ucap Beni memecahkan heningnya malam itu.

Rasanya kalimat itu agak asing kudengar. Tapi Aku harus berusaha menutupi salah tingkahku. Mungkin yang dimaksut Beni ya sayang layaknya Sahabat dan nggak lebih.
                “iya Ben, pasti lah. Kamu juga gitu ya. Sella juga sayang Beni kok. Gimana gak sayang cobak,       kan dari kecil uda bareng. Hehehe...”.

                “bukan gitu Sel, emang gak selayaknya perasaan ini ada. Tapi aku juga gabisa jadi cowok pengecut yang menyembunyikan perasaan ini”

                “maksut Beni apaa ?”.

                “Ya aku sayang kamu itu lebih dari layaknya seorang sahabat. Maaf sebelumnya kalo aku mengotori pesahabatan ini”.

Pernyataan Beni itu membuat keringat dingin dan jantung berdebar. Ingin rasanya Aku menjawab dengan kalimat yang juga bisa membuatnya senang. Tapi, Aku tidak boleh egois. Persahabatan ini terlalu indah untuk dihancurkan hanya demi menjalin hubungan yang seharusnya kujalin dengan cowok yang bukan sahabatku.
                “Ben, udah mau pagi nih. Aku juga ngantuk banget. Gimana ya ?. Pulang gih”.

                “Oh gitu ?. Iyadeh, tapi aku mau bilang kalo besok aku pindah sekolah ke Ausi. Papa juga ada proyek disana, jadi aku sama Papa pindah kesana untuk empat sampai lima tahun kedepan. Mama sama Eno tetep di Indonesia. Soalnya mama juga kerjaannya gabisa ditinggal”.

Huuuuaaaaaaaa. Rasanya air mata sudah tak bisa dibendung. Bayangan akan hari-hari yang nantinya sudah tidak bisa berkomunikasi via telepon genggam merasuki pikiranku. Lidah pun sulit untuk mengungkapkan betapa sedihnya. Tapi ini juga bisa membuat kami belajar untuk benar-benar berpisah.

                “oke Ben, kamu jaga diri ya. Semoga pergaulan disana tidak membuatmu berubah. Nanti kalo kamu sudah kembali ke Indonesia jangan lupakan kita bertiga”.

                “pasti Sel, kalian wanita yang bisa membuatku tumbuh menjadi seperti ini. Terutama kamu, kamu yang membuat aku bisa merasakan pertama kali rasanya jatuh cinta”.

                “Oh ya, besok kalo mau berangkat tolong text aku yaa. Sekarang kamu pulang sana. Biar besok ga terlalu capek”.

                “Oke sel, selamat malam dan selamat tidur ya. Semoga mimpi indah”.


Sudah 30 menit Aku berbaring di tempat tidur. Tetapi mata enggan untuk menutup. Mungkin karena Aku terus memikirkan kejadian-kejadian yang akan kualami tanpa 3 orang sahabatku. Apalagi Beni, satu-satunya cowok di TOY sekaligus orang yang aku cinta, akan pergi ke Negara yang jika aku merindukannya tidak dapat di datangi dengan menggunakan angkutan umum atau bus.



Selamat pagi nona cantik. Aku sudah di Bandara  nih. Setengah jam lagi take off. Mungkin nanti landing jam 12 an. Rasanya gak rela deh ninggal nona cantik. Tapi Aku percaya kita bakal ketemu lagi kok. Udah ya. Love you !.” -Pkl. 08.00 WIB     
                                                                                                                                               
Sudah 30 menit berlangsung dan Aku baru bangun tidur. Aku baru ingat kalau hari ini Beni berangkat ke Australia. Kujamah telepon gengam dan membukanya. Tetes air mata sudah membasahi pipi. Aku merasa sangat payah. Kenapa aku tidak bangun sebelum Beni sms. Sekarang, apa yang bisa kulakukan ?. Aku hanya bisa menyimpan sms Beni yang dia kirim untuk terakhir kalinya dalam 4 sampai 5 tahun kedepan.

Hari ini, hari pertama aku akan memulai hariku tanpa mereka. Cisa akan pergi ke Bogor untuk melanjutkan SMA nya disana dan tinggal bersama paman bibi nya. Sedangkan Erin pergi ke Solo untuk melanjutkan SMK nya disana sekaligus menemani Nenek nya yang baru ditinggal oleh Kakek Erin. Hanya aku satu-satunya yang tetap tinggal disini, di Ibu Kota Republik Indonesia. Kota yang penuh kenangan bersama orang-orang yang aku sayangi. Walaupun hidup di Kota, Aku yang terlahir di keluarga Jawa tulen sudah mempunyai kebiasaan untuk melestarikan kebudayaan Jawa terutama Tari Tradisional. Di Kota ini mungkin memang susah untuk mencari sanggar Tari. Tapi untunglah keluargaku mempunyai kerabat yang cukup terkenal untuk masalah Tari Traidisional. Aku memang dari kecil sudah berlatih Tari Tradisional dan menjuarai banyak kompetisi. Mungkin sampai aku mahasiswa nanti aku tetap bersikukuh untuk mempertahankan kebudayaan ini.



Dua tahun telah berlangsung. Sekarang aku berumur 16 tahun lebih 11 bulan dan akan memasuki umur 17 tahun. Oh God, ini sweet seventeen ku. Aku menginginkan ketiga sahabatku hadir di sini saat Ulang Tahunku ku nanti, tapi rasanya mustahil sekali. Mungkin ini kali pertama aku harus bersikap lebih dewasa.

Hari ini aku berUlang Tahun. Memang tidak ada pesta atau sesuatu yang spesial. Hanya perayaan kecil dalam lingkup keluarga saja. Tapi, rasa sedih yang awalnya ada seakan sirna saat aku menerima kado dari ketiga sahabatku. Mereka mengirim kado tersebut lewat jasa pengiriman. Aku mendapat baju terusan berwarna merah muda berpadu dengan warna hitam yang indah dan celotehannya ditulis pada postcard dari Cisa, tas warna putih dan terkesan elegan dengan ucapannya dari Erin dan jam tangan bermerk dari Beni. Didalam kado Beni juga terdapat tulisan.

“Seperti jarum jam yang dengan pasti menunjukkan angka, layaknya cintaku yang sudah pasti berada di lubuk hatimu. Seperti detiknya yang seakan berbicara, layaknya aku saat mengungkapkan perasaan itu kepadamu dan seperti kotaknya yang akan melindunginya dari debu, layaknya aku yang kelak akan melindungimu. Cinta dan sayang ini telah berpadu jadi satu dan tak akan lekang oleh WAKTU
Tunggu aku sukses Sel, aku pasti kembali untukmu. Happy Birthday Sella. Love you!”.

Kata-kata Beni dalam selembar kertas itu menenangkan hati Sella yang sampai saat ini memang masih menanti Beni dan menolak beribu-ribu pria yang menginginkan Sella untuk menjadi pacarnya.



Lima tahun sudah, aku tak bertemu teman-temanku. Aku yang lulus SMA dan melanjutkan perguruan tinggi di Universitas ternama Jakarta, sudah memasuki semester akhir. Aku juga sudah memiliki kekasih yang setaun terakhir ini bersamaku. Memang Beni yang aku nantikan, tapi Aku juga perlu kekasih yang menemaniku kemana-mana. Tahun ini TOY akan bertemu dan belum pasti bulan apa.
Akhirnya aku mendapat kabar bahwa hari itu Beni kembali ke Indonesia. Begitu juga dengan Cisa dan Erin yang kembali kerumahnya masing-masing. Aku putuskan untuk bertemu mereka esok harinya. Mereka juga sepakat.

Esok hari....-pkl 19.00

Kita sepakat bertemu di Cafe yang dulu sering kami datangi. Dekorasi yang berbeda dengan lima tahun lalu cukup membuat aku sedikit ragu apa itu cafe yang biasanya atau bukan. Memang aku tetap di Kota ini, tapi aku tidak pernah kesini lima tahun terakhir ini. Setelah aku datang, tak lama kemudian Cisa yang disusul dengan Erin menghampiriku. Kita memesan minuman favorite masing-masing sambil menunggu Beni datang. Tak lama kemudian Beni datang. Badannya yang tinggi dan gagah, suaranya yang sedikit lebih besar dan wajahnya yang tampan memaku pandanganku. Beni yang sangat ku dambakan dan ku nanti akhirnya hari ini bertemu.
Satu jam berlalu dan kita sudah banyak berbincang-bincang, aku pun mendapat undangan pernikahan Cisa yang dilaksanakan bulan ini dan Erin yang akan dilaksanakan bulan depan. Kini waktunya pulang karena hari sudah mulai sore. Aku diantar Beni yang kebetulan memang mau bertemu dengan Mama dan Papa. Saat perjalanan pulang, Aku dan Beni sempat berbincang. Beni bertanya kepadaku, tentang hubungan kita yang sempat renggang.

                “Sel, kamu belum kasih kepastian sejak malam Ulang Tahunmu itu. Kamu hanya diam. Apa  rasaku ini hanya bertepuk sebelah tangan ?”

                “bukan begitu Ben. Sejujurnya aku juga mencintaimu, tapi persahabatan kita terlalu indah. Aku hanya tidak ingin egois. Jika kita berpacaran, hubungan kita berempat tidak akan baik lagi. Aku lebih baik memilih cowok lain untuk berpacaran, walaupun aku tak menyayanginya. Karena kalau pacaran ada mantan pacar dan aku tidak ingin terjadi pada kita”.

                “kalau kita tidak usah pacaran dan aku langsung melamarmu?”.

                “mungkin itu lebih baik Ben”.

Aku yang memang sudah mempunyai kekasih akhirnya harus mengakhiri hubunganku dengan kekasihku yang memang tidak dilandasi dengan perasaan sayang atau cinta .
Dua tahun kemudian setelah aku menyelesaikan kuliahku dan sudah diterima kerja di salahsatu Perusahaan ternama Jakarta, Cisa dan Erin datang kerumahku dengan membawa suami dan momongan. Saat itu juga Beni memberanikan diri untuk melamarku.
Akhirnya keluarga dari kami berdua memutuskan  untuk menjatuhkan hari pernikahan kami pada Bulan February, yang dipercaya sebagai Bulan penuh Cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar