Kita tetap jadi kita..
B
|
erawal dari 2 tahun lalu, ketika kami
berempat mempunyai keputusan yang
awalnya tidak mudah untuk diterima, apalagi Aku yang paling manja diantara 3
orang sahabatku.Sebenernya ide itu keluar dari Cisa salah satu sahabatku yang
memang paling dewasa pemikirannya. Tetapi akhirnya semua ya harus setuju,
walaupun ide itu benar-benar gila. Kami memutuskan untuk mengiyakan ide Cisa
dan kami pun setuju untuk berpisah untuk 5 tahun kedepan. Perpisahan ini bukan
karena suatu pertengkaran, tetapi agar kita bisa mandiri dan tidak selalu
bersenang-senang, sekaligus untuk menghukum masing-masing dari kami yang sulit
untuk memecahkan masalah dengan otak dingin dan selalu kekanak-kanak an.
Sebenarnya kami mengerti kalau itu salah, tapi gimana lagi ya namanya remaja
labil. Kami biasa menyebut persahabatan ini dengan “Trils Oboy” , maksutnya Three Girls One Boy tapi karena terlalu
panjang, seringkali kami menyebutnya TOY.
Itu karena kami terdiri dari satu cowok, namanya Beni yang grows up diantara tiga cewek cantik,
termasuk Aku.
Malam itu tanggal 12 September 2010,
bertepatan dengan hari Ulang Tahunku ke 15, tahun pertama ku duduk di bangku
Sekolah Menengah Atas. Memang hari itu spesial banget buat Aku, tapi sedih juga
rasanya harus merayakan Ulang Tahun sekaligus menjadikan moment itu untuk
perpisahan kami. Aku yang malam itu sedang menjadi Ratu semalam, harus gelisah
karena tiga sahabatku belum juga muncul diantara tamu undangan yang lain. Beberapa menit berlalu, akhirnya acara Ulang
Tahunku dimulai dan mereka bertiga belum juga menampakkan batang hidung. Terasa
sesak, kepala pusing dan keringat dingin mulai mengucur deras di kening ku.
Melunturkan dandanan yang malam itu terkesan minimalis, seakan bepadu dengan
tema pesta ku itu. Gelisah tak menentu saat tiup lilin dan pemotongan kue sudah
usai tetapi mereka belum juga datang.Sampai aku memutuskan untuk meninggalkan
acaraku dan naik ke teras atas agar mendapat suatu ketenangan. Aku bisa melihat
semuanya dari atas, termasuk saat pesta ku seakan mati dengan padamnya listrik.
Tetapi semuanya tidak seburuk dengan apa yang kubayangkan, ternyata itu tadi
hanya bagian dari rencana TOY untuk memberi kejutan. Mereka bertiga dan para
tamu undangan bernyanyi dibawah sana dan
aku benar-benar menjadi Ratu semalam. Aku pun turun dan memberi pelukan hangat
kepada mereka bertiga. Degub yang tak wajar terjadi saat Aku memeluk Beni. Balasan
pelukanku yang ia berikan sangat erat, seolah tulus dan tak ingin melepaskanku.
Tapi aku buru-buru melepaskan diri agar tidak timbul perasaan yang tak seharusnya
kumiliki terhadapnya. Malam pun telah larut, tamu undangan juga sudah tidak ada
yang tersisa. Tetapi tidak dengan kita, yang masih menikmati dinginnya hembusan
angin malam dan indahnya langit yang berhias bintang. Canda dan tawa yang
kulihat malam itu seakan mengatakan bahwa kita tidak boleh berpisah. Tetapi apa
daya, kita harus konsekuen dengan keputusan awal.
Waktu menunjukkan pukul 00.00 dan Cisa
undur diri untuk pulang. Tak lama kemudian Erin juga pulang karena rasa
kantuknya sudah tak tertahan, menyisakan Aku dan Beni di taman belakang rumah.
Sebenernya aku tidak biasa tidur selarut ini, tetapi mungkin karena ada Beni
yang selalu membuatku tertawa jadi rasa kantuk itu tidak sedikitpun menghampiriku.
Rasanya malam ini tak seperti biasanya, Beni terlihat kaku dan menyembunyikan
sesuatu. Tetapi aku juga enggan untuk menanyakan apa yang terjadi. Hening pun
mulai terasa saat sudah limabelas menit tidak ada percakapan diantara kami
berdua. Akhirnya Beni memulai pembicaraan.
“Sel, kalo kita nanti pisah
dan masing-masing sudah menemukan sesuatu yang menyenangkan, kamu jangan berubah. Tetep jadi Sella yang Beni
sayang ya!”. Ucap Beni memecahkan heningnya malam itu.
Rasanya kalimat itu agak asing kudengar. Tapi Aku
harus berusaha menutupi salah tingkahku. Mungkin yang dimaksut Beni ya sayang
layaknya Sahabat dan nggak lebih.
“iya
Ben, pasti lah. Kamu juga gitu ya. Sella juga sayang Beni kok. Gimana gak
sayang cobak, kan dari kecil uda
bareng. Hehehe...”.
“bukan
gitu Sel, emang gak selayaknya perasaan ini ada. Tapi aku juga gabisa jadi
cowok pengecut yang menyembunyikan perasaan ini”
“maksut
Beni apaa ?”.
“Ya
aku sayang kamu itu lebih dari layaknya seorang sahabat. Maaf sebelumnya kalo
aku mengotori pesahabatan ini”.
Pernyataan Beni itu membuat keringat dingin dan
jantung berdebar. Ingin rasanya Aku menjawab dengan kalimat yang juga bisa
membuatnya senang. Tapi, Aku tidak boleh egois. Persahabatan ini terlalu indah
untuk dihancurkan hanya demi menjalin hubungan yang seharusnya kujalin dengan
cowok yang bukan sahabatku.
“Ben,
udah mau pagi nih. Aku juga ngantuk banget. Gimana ya ?. Pulang gih”.
“Oh
gitu ?. Iyadeh, tapi aku mau bilang kalo besok aku pindah sekolah ke Ausi. Papa
juga ada proyek disana, jadi aku sama Papa pindah kesana untuk empat sampai
lima tahun kedepan. Mama sama Eno tetep di Indonesia. Soalnya mama juga
kerjaannya gabisa ditinggal”.
Huuuuaaaaaaaa.
Rasanya air mata sudah tak bisa dibendung. Bayangan akan hari-hari yang
nantinya sudah tidak bisa berkomunikasi via telepon genggam merasuki pikiranku.
Lidah pun sulit untuk mengungkapkan betapa sedihnya. Tapi ini juga bisa membuat
kami belajar untuk benar-benar berpisah.
“oke
Ben, kamu jaga diri ya. Semoga pergaulan disana tidak membuatmu berubah. Nanti
kalo kamu sudah kembali ke Indonesia jangan lupakan kita bertiga”.
“pasti
Sel, kalian wanita yang bisa membuatku tumbuh menjadi seperti ini. Terutama
kamu, kamu yang membuat aku bisa merasakan pertama kali rasanya jatuh cinta”.
“Oh
ya, besok kalo mau berangkat tolong text
aku yaa. Sekarang kamu pulang sana. Biar besok ga terlalu capek”.
“Oke
sel, selamat malam dan selamat tidur ya. Semoga mimpi indah”.
Sudah
30 menit Aku berbaring di tempat tidur. Tetapi mata enggan untuk menutup.
Mungkin karena Aku terus memikirkan kejadian-kejadian yang akan kualami tanpa 3
orang sahabatku. Apalagi Beni, satu-satunya cowok di TOY sekaligus orang yang
aku cinta, akan pergi ke Negara yang jika aku merindukannya tidak dapat di
datangi dengan menggunakan angkutan umum atau bus.
“Selamat pagi nona cantik. Aku sudah di Bandara nih. Setengah jam lagi take off. Mungkin nanti landing
jam 12 an. Rasanya gak rela deh ninggal nona cantik. Tapi Aku percaya kita
bakal ketemu lagi kok. Udah ya. Love you !.” -Pkl. 08.00 WIB
Sudah
30 menit berlangsung dan Aku baru bangun tidur. Aku baru ingat kalau hari ini
Beni berangkat ke Australia. Kujamah telepon gengam dan membukanya. Tetes air mata
sudah membasahi pipi. Aku merasa sangat payah. Kenapa aku tidak bangun sebelum
Beni sms. Sekarang, apa yang bisa kulakukan ?. Aku hanya bisa menyimpan sms
Beni yang dia kirim untuk terakhir kalinya dalam 4 sampai 5 tahun kedepan.
Hari
ini, hari pertama aku akan memulai hariku tanpa mereka. Cisa akan pergi ke
Bogor untuk melanjutkan SMA nya disana dan tinggal bersama paman bibi nya.
Sedangkan Erin pergi ke Solo untuk melanjutkan SMK nya disana sekaligus
menemani Nenek nya yang baru ditinggal oleh Kakek Erin. Hanya aku satu-satunya
yang tetap tinggal disini, di Ibu Kota Republik Indonesia. Kota yang penuh
kenangan bersama orang-orang yang aku sayangi. Walaupun hidup di Kota, Aku yang
terlahir di keluarga Jawa tulen sudah mempunyai kebiasaan untuk melestarikan
kebudayaan Jawa terutama Tari Tradisional. Di Kota ini mungkin memang susah
untuk mencari sanggar Tari. Tapi untunglah keluargaku mempunyai kerabat yang
cukup terkenal untuk masalah Tari Traidisional. Aku memang dari kecil sudah
berlatih Tari Tradisional dan menjuarai banyak kompetisi. Mungkin sampai aku
mahasiswa nanti aku tetap bersikukuh untuk mempertahankan kebudayaan ini.
Dua tahun telah berlangsung.
Sekarang aku berumur 16 tahun lebih 11 bulan dan akan memasuki umur 17 tahun.
Oh God, ini sweet seventeen ku. Aku
menginginkan ketiga sahabatku hadir di sini saat Ulang Tahunku ku nanti, tapi
rasanya mustahil sekali. Mungkin ini kali pertama aku harus bersikap lebih
dewasa.
Hari
ini aku berUlang Tahun. Memang tidak ada pesta atau sesuatu yang spesial. Hanya
perayaan kecil dalam lingkup keluarga saja. Tapi, rasa sedih yang awalnya ada
seakan sirna saat aku menerima kado dari ketiga sahabatku. Mereka mengirim kado
tersebut lewat jasa pengiriman. Aku mendapat baju terusan berwarna merah muda
berpadu dengan warna hitam yang indah dan celotehannya ditulis pada postcard dari Cisa, tas warna putih dan
terkesan elegan dengan ucapannya dari Erin dan jam tangan bermerk dari Beni.
Didalam kado Beni juga terdapat tulisan.
“Seperti jarum jam yang dengan
pasti menunjukkan angka, layaknya cintaku yang sudah pasti berada di lubuk
hatimu. Seperti detiknya yang seakan berbicara, layaknya aku saat mengungkapkan
perasaan itu kepadamu dan seperti kotaknya yang akan melindunginya dari debu,
layaknya aku yang kelak akan melindungimu. Cinta dan sayang ini telah berpadu
jadi satu dan tak akan lekang oleh WAKTU
Tunggu aku sukses Sel, aku
pasti kembali untukmu. Happy Birthday Sella. Love you!”.
Kata-kata
Beni dalam selembar kertas itu menenangkan hati Sella yang sampai saat ini
memang masih menanti Beni dan menolak beribu-ribu pria yang menginginkan Sella
untuk menjadi pacarnya.
Lima tahun sudah,
aku tak bertemu teman-temanku. Aku yang lulus SMA dan melanjutkan perguruan
tinggi di Universitas ternama Jakarta, sudah memasuki semester akhir. Aku juga
sudah memiliki kekasih yang setaun terakhir ini bersamaku. Memang Beni yang aku
nantikan, tapi Aku juga perlu kekasih yang menemaniku kemana-mana. Tahun ini
TOY akan bertemu dan belum pasti bulan apa.
Akhirnya
aku mendapat kabar bahwa hari itu Beni kembali ke Indonesia. Begitu juga dengan
Cisa dan Erin yang kembali kerumahnya masing-masing. Aku putuskan untuk bertemu
mereka esok harinya. Mereka juga sepakat.
Esok
hari....-pkl 19.00
Kita
sepakat bertemu di Cafe yang dulu sering kami datangi. Dekorasi yang berbeda
dengan lima tahun lalu cukup membuat aku sedikit ragu apa itu cafe yang
biasanya atau bukan. Memang aku tetap di Kota ini, tapi aku tidak pernah kesini
lima tahun terakhir ini. Setelah aku datang, tak lama kemudian Cisa yang
disusul dengan Erin menghampiriku. Kita memesan minuman favorite masing-masing
sambil menunggu Beni datang. Tak lama kemudian Beni datang. Badannya yang
tinggi dan gagah, suaranya yang sedikit lebih besar dan wajahnya yang tampan
memaku pandanganku. Beni yang sangat ku dambakan dan ku nanti akhirnya hari ini
bertemu.
Satu
jam berlalu dan kita sudah banyak berbincang-bincang, aku pun mendapat undangan
pernikahan Cisa yang dilaksanakan bulan ini dan Erin yang akan dilaksanakan
bulan depan. Kini waktunya pulang karena hari sudah mulai sore. Aku diantar
Beni yang kebetulan memang mau bertemu dengan Mama dan Papa. Saat perjalanan
pulang, Aku dan Beni sempat berbincang. Beni bertanya kepadaku, tentang
hubungan kita yang sempat renggang.
“Sel,
kamu belum kasih kepastian sejak malam Ulang Tahunmu itu. Kamu hanya diam.
Apa rasaku ini hanya bertepuk sebelah
tangan ?”
“bukan
begitu Ben. Sejujurnya aku juga mencintaimu, tapi persahabatan kita terlalu
indah. Aku hanya tidak ingin egois. Jika kita berpacaran, hubungan kita
berempat tidak akan baik lagi. Aku lebih baik memilih cowok lain untuk
berpacaran, walaupun aku tak menyayanginya. Karena kalau pacaran ada mantan
pacar dan aku tidak ingin terjadi pada kita”.
“kalau
kita tidak usah pacaran dan aku langsung melamarmu?”.
“mungkin
itu lebih baik Ben”.
Aku
yang memang sudah mempunyai kekasih akhirnya harus mengakhiri hubunganku dengan
kekasihku yang memang tidak dilandasi dengan perasaan sayang atau cinta .
Dua
tahun kemudian setelah aku menyelesaikan kuliahku dan sudah diterima kerja di
salahsatu Perusahaan ternama Jakarta, Cisa dan Erin datang kerumahku dengan
membawa suami dan momongan. Saat itu juga Beni memberanikan diri untuk
melamarku.
Akhirnya
keluarga dari kami berdua memutuskan
untuk menjatuhkan hari pernikahan kami pada Bulan February, yang
dipercaya sebagai Bulan penuh Cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar